Siapa yang tidak kepengen sperti teman- teman yang secara materi sudah berkelimpahan? Secara normal semua pasti ingin. Ada yang setiap bulan ganti type BlackBerry-nya. Ada yang punya penghasilan lebih dari 50 jt per bulannya. Ada yang sekolah di"bawakan" Cheeroki" oleh bapaknya. Ada yang sudah punya properti impiannya. Ada yang sudah punya Investasi di bursa saham. Bermacam-macam bentuk pencapaian yang sudah diraih.
Dan Pengetahuan atau wawasan yg kurang bisa jadi menyebabkan datangnya tekanan kehidupan. Merasa paling miskin di dunia, merasa paling menderita, merasa paling kalah. Mungkin merasa dunia itu kejam, Tuhan itu tidak adil bahkan perasaan lebih baik mati menghantui orang ini.
Kalau diperhatikan, ada kata kunci yang menyertai kalimat-kalimat di atas. "Merasa". Itulah kata kuncinya. Satu dari berbagai teori psikologi banyak pendekatan atas mental seseorang, Teori kognitif contohnya. Teori konitif menghubungkan Semua perasaan dengan bagaimana dia mengungkapkan atau membahasakannya. Ketika ada kata "merasa" maka diartikan sebagai berpikir. Maka akan beralih menjadi kalimat "berpikir paling menderita, berpikir paling kalah, berpikir... Bukan merasa.." Oleh praktisi kubu psikolog ini, pikiran pikiran ini lah yang harus diganti..
Salah satu teknik yang terbaik -menurut saya tentunya, adalah dengan membandingkan data-data yang dimiliki klain. Benarkah apa yang dia rasakan sesuai dengan yang data keseluruhan? Contoh gampangnya begini : Kalau kita merasa paling menderita, maka ditelusuri apakah yang paling dideritai ? Bisa saja kita menjawab. Saya selalu di pecat sebelum pengangkatan karyawan tetap. Saya pasti tidak punya uang lebih. Atau orang yang lain berkata,"saya selalu ditipu rekan bisnis."
Untuk orang yang "merasa" selalu dipecat akan di tanya apa iya 'selalu" dipecat? Buktinya apa? maka orang ini memberi tahu bahwa dari 7 tempat ia bekerja, ia hanya di pecat 3 kali. Dan yang 4 kalinya adalah ia resign sendiri. Dari sini muncullah "kesadaran" baru -yg sebenarnya ia jg sadar, hny tdk memperhatikan- bahwa ia hanya sering dipecat, atau bahkan hanya "pernah" di pecat. Pendekatan yang sama juga dilakukan kpd orang yang merasa tdk pny uang lebih, dan orang yang mengaku selalu ditipu rekan bisnis.
Alhasil, yang tadinya ada terucap kata-kata " selalu", " pasti", " mulai berubah menjadi "kadang-kadang", "sesekali", atau hanya "pernah".
Dasyatnya teknik pikiran bisa merubah orang menjadi berbeda dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Rejeki Bentuk Lain
Kembali ke awal tulisann ini,mungkin data yang kita miliki bena-benar menunjukkan bahwa "kitalah yang paling...Mungkin ini sering kita dengar "Saya selalu apes", "Saya sering di kibuli orang" "saya sering dikhianati kekasih" atau kejadian lainnya. Poinnya tidak ada satu orangpun yang mengalami semua kejadian secara bersamaan. Sering kecelakaan dan sering dikibuli orang ,selalu apes dan sering dikhianati sekaligus selalu di pecat. Tidak ada orang yang menyandang kesialan sebanyak itu.
Bisa kita buka "mata" kita lebih lebar lagi.. Barangkali benar kita adalah orang yang sering dikhianati sekaligus kurang beruntung rumah tangga orang tuanya berantakan. Tetapi dia adalah orang yang selalu punya teman setia yang mau berbagi, dia memiliki ibu yang penuh kasih sayang, dia selalu punya fasilitas yang memudahkannya, dia selalu jadi bintang di sekolahnya, dia selalu dapat promosi di kantornya, dia punya keluarga idaman dengan anak yg manis... Sekali lagi banyak hal lebih menguntungkannya ketimbang hal yang selalu menekannya..
Boleh saja orang merasa tidak beruntung dalam satu hal.. Tapi pasti banyak keberuntungan di sisi lain. Dari kacamata ini mulai terpatahkan bahwa kita adalah orang yang paling menderita atau pikiran lain yang sejenisnya. Bahkan ada kalimat dasyat membangun, "terkadang kita butuh musibah". Pernyataan yang menyengat. Siapa yang perlu musibah? Hardik sebagian orang. Ya, kita butuh musibah sekali -kali! Perhatikan ini...Kalau tidak tabrakan sampai motor rusak, saya ga pernah pelan2 naik motornya. Kalau tidak kena jantung, tidak akan berhenti merokok. Kalau tidak hilang uang puluhan juta, tidak akan hati2 menaruh uang. Kalau tidak ketahuan tidak akan berhenti selingkuh. Kalau tidak ditipu rekan bisnis, tidak tau mana orang yang tidak bs dipercaya. Kalau tidak ditangkap KPK, tidak mau cari duit halal. Kalau tidak kena Penyakit menular Sex , tidak akan pernah taubat..Dan banyak sekali musibah "menguntungkan" lainnya. Kita tidak akan pindah arah kalau kita tidak terpentok musibah!
Mulailah terbuka pikiran kita,bahwa tidak punya Blackberry-pun tidak apa-apa, masih ada merk S**Berry. Belum punya penghasikan puluhan juta ga papa, krn kita masih pny keluarga indah yang damai. Belum punya mobil pribadipun biarkan karna kita sudah punya 2 anak yang manis2,sementara bs jd mereka merasa kesepian didalam mobilnya. Semua orang punya kesusahan masing-masing. dan Mereka pasti punya kebahagiaan yang perlu mereka nikmati. Dan kita diberi rejeki dalam bentuk lain..Maka mulai saat ini Nikmatilah semuanya! Musibah adalah nikmat, limpahan rejeki JAUH LEBIH NIKMAT.