promo

Rabu, 13 Oktober 2010

Tuhan Memberi kita dalam bentuk lain

Siapa yang tidak kepengen sperti teman- teman yang secara materi sudah berkelimpahan? Secara normal semua pasti ingin. Ada yang setiap bulan ganti type BlackBerry-nya. Ada yang punya penghasilan lebih dari 50 jt per bulannya. Ada yang sekolah di"bawakan" Cheeroki" oleh bapaknya. Ada yang sudah punya properti impiannya. Ada yang sudah punya Investasi di bursa saham. Bermacam-macam bentuk pencapaian yang sudah diraih.

Dan Pengetahuan atau wawasan yg kurang bisa jadi menyebabkan datangnya tekanan kehidupan. Merasa paling miskin di dunia, merasa paling menderita, merasa paling kalah. Mungkin merasa dunia itu kejam, Tuhan itu tidak adil bahkan perasaan lebih baik mati menghantui orang ini.

Kalau diperhatikan, ada kata kunci yang menyertai kalimat-kalimat di atas. "Merasa". Itulah kata kuncinya. Satu dari berbagai teori psikologi banyak pendekatan atas mental seseorang, Teori kognitif contohnya. Teori konitif menghubungkan Semua perasaan dengan bagaimana dia mengungkapkan atau membahasakannya. Ketika ada kata "merasa" maka diartikan sebagai berpikir. Maka akan beralih menjadi kalimat "berpikir paling menderita, berpikir paling kalah, berpikir... Bukan merasa.." Oleh praktisi kubu psikolog ini, pikiran pikiran ini lah yang harus diganti..

Salah satu teknik yang terbaik -menurut saya tentunya, adalah dengan membandingkan data-data yang dimiliki klain. Benarkah apa yang dia rasakan sesuai dengan yang data keseluruhan? Contoh gampangnya begini : Kalau kita merasa paling menderita, maka ditelusuri apakah yang paling dideritai ? Bisa saja kita menjawab. Saya selalu di pecat sebelum pengangkatan karyawan tetap. Saya pasti tidak punya uang lebih. Atau orang yang lain berkata,"saya selalu ditipu rekan bisnis."

Untuk orang yang "merasa" selalu dipecat akan di tanya apa iya 'selalu" dipecat? Buktinya apa? maka orang ini memberi tahu bahwa dari 7 tempat ia bekerja, ia hanya di pecat 3 kali. Dan yang 4 kalinya adalah ia resign sendiri. Dari sini muncullah "kesadaran" baru -yg sebenarnya ia jg sadar, hny tdk memperhatikan- bahwa ia hanya sering dipecat, atau bahkan hanya "pernah" di pecat. Pendekatan yang sama juga dilakukan kpd orang yang merasa tdk pny uang lebih, dan orang yang mengaku selalu ditipu rekan bisnis.

Alhasil, yang tadinya ada terucap kata-kata " selalu", " pasti", " mulai berubah menjadi "kadang-kadang", "sesekali", atau hanya "pernah".

Dasyatnya teknik pikiran bisa merubah orang menjadi berbeda dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Rejeki Bentuk Lain

Kembali ke awal tulisann ini,mungkin data yang kita miliki bena-benar menunjukkan bahwa "kitalah yang paling...Mungkin ini sering kita dengar "Saya selalu apes", "Saya sering di kibuli orang" "saya sering dikhianati kekasih" atau kejadian lainnya. Poinnya tidak ada satu orangpun yang mengalami semua kejadian secara bersamaan. Sering kecelakaan dan sering dikibuli orang ,selalu apes dan sering dikhianati sekaligus selalu di pecat. Tidak ada orang yang menyandang kesialan sebanyak itu.

Bisa kita buka "mata" kita lebih lebar lagi.. Barangkali benar kita adalah orang yang sering dikhianati sekaligus kurang beruntung rumah tangga orang tuanya berantakan. Tetapi dia adalah orang yang selalu punya teman setia yang mau berbagi, dia memiliki ibu yang penuh kasih sayang, dia selalu punya fasilitas yang memudahkannya, dia selalu jadi bintang di sekolahnya, dia selalu dapat promosi di kantornya, dia punya keluarga idaman dengan anak yg manis... Sekali lagi banyak hal lebih menguntungkannya ketimbang hal yang selalu menekannya..

Boleh saja orang merasa tidak beruntung dalam satu hal.. Tapi pasti banyak keberuntungan di sisi lain. Dari kacamata ini mulai terpatahkan bahwa kita adalah orang yang paling menderita atau pikiran lain yang sejenisnya. Bahkan ada kalimat dasyat membangun, "terkadang kita butuh musibah". Pernyataan yang menyengat. Siapa yang perlu musibah? Hardik sebagian orang. Ya, kita butuh musibah sekali -kali! Perhatikan ini...Kalau tidak tabrakan sampai motor rusak, saya ga pernah pelan2 naik motornya. Kalau tidak kena jantung, tidak akan berhenti merokok. Kalau tidak hilang uang puluhan juta, tidak akan hati2 menaruh uang. Kalau tidak ketahuan tidak akan berhenti selingkuh. Kalau tidak ditipu rekan bisnis, tidak tau mana orang yang tidak bs dipercaya. Kalau tidak ditangkap KPK, tidak mau cari duit halal. Kalau tidak kena Penyakit menular Sex , tidak akan pernah taubat..Dan banyak sekali musibah "menguntungkan" lainnya. Kita tidak akan pindah arah kalau kita tidak terpentok musibah!

Mulailah terbuka pikiran kita,bahwa tidak punya Blackberry-pun tidak apa-apa, masih ada merk S**Berry. Belum punya penghasikan puluhan juta ga papa, krn kita masih pny keluarga indah yang damai. Belum punya mobil pribadipun biarkan karna kita sudah punya 2 anak yang manis2,sementara bs jd mereka merasa kesepian didalam mobilnya. Semua orang punya kesusahan masing-masing. dan Mereka pasti punya kebahagiaan yang perlu mereka nikmati. Dan kita diberi rejeki dalam bentuk lain..Maka mulai saat ini Nikmatilah semuanya! Musibah adalah nikmat, limpahan rejeki JAUH LEBIH NIKMAT.

Selasa, 12 Mei 2009

Cara melatih otak anda untuk melihat peluang

Life · May 2, 2009
“Jadi apa langkah pertama anda untuk melatih otak anda melihat peluang, jawabannya adalah melek finansial.”
(Robert T. Kiyosaki)
Keterangan :
Yang dimaksud melek finansial adalah kemampuan memahami sistem kata-kata dan angka yang akan membuat anda kaya. Jika tidak mengerti kata-kata atau angkanya anda sama saja berbicara dalam bahasa asing. Setiap kuadran mewakili sebuah bahasa asing.
Keterangan :
Masing-masing kuadran seperti sebuah negara yang berbeda, tidak semua menggunakan kata-kata yang sama. Kalau anda tidak mengerti kata-katanya maka anda tidak mengerti angkanya. Sebagai contoh, jika seorang dokter biasa mengatakan, “sistolik anda 120 dan diastolik anda 80,” apakah itu bagus atau jelek? Apakah hanya itu yang perlu anda ketahui tentang kesehatan anda? Jawabannya tentu saja “tidak”.Namun itu sebuah awal. Sama saja seperti menanyakan, “P/E saya 12, dan cap rate rumah apartemen saya 12.” Apakah hanya ini yang perlu saya ketahui tentang kekayaan saya? Sekali lagi, jawabannya “tidak”, tapi ini sebuah awal. Setidaknya kita mulai berbicara kata-kata yang sama dan menggunakan angka yang sama. Dan disinilah awal “melek finansial”, yang merupakan dasar kecerdasan finansial- dimulai dengan mengerti kata-kata dan angka.
Seperti teman saya, Richard Tan, Robert Kiyosaki Authorized Consultant untuk asia, ketika orang tuanya pertama kali datang ke Singapura, mereka tidak bisa bahasa mandarin, mereka tidak bisa bahasa melayu, mereka tidak bisa bahasa inggris, mereka hanya bisa bicara bahasa “fuzhou”, atau satu bahasa dialek di cina. Makanya ketika Richard Tan masuk SD kelas 1, ketika ditest membaca huruf A-Z tidak bisa, dia langsung diturunkan kelasnya.
Jadi menurut Robert Kiyosaki pengertian tentang melek finansial adalah kemampuan menghasilkan uang dengan uang dimulai dengan pengertian dengan kata-kata.
Langkah kedua dalam melatih otak anda melihat uang adalah belajar mengenali risiko yang sebenarnya. Kalau orang mengatakan kepada saya bahwa berinvestasi itu berisiko, saya hanya mengatakan, ”Berinvestasi itu tidak berisiko, yang berisiko adalah kalau anda tidak mempelajarinya dulu.”
Berinvestasi sama seperti terbang. Jika pernah mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan dan menghabiskan beberapa tahun untuk memperoleh pengalaman, maka terbang terasa menyenangkan dan menggairahkan. Tapi kalau anda tidak pernah mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan, saya sarankan biarkan orang lain saja yang terbang.
Apabila anda ingin belajar dari Robert Kiyosaki langsung, silahkan daftar seminar disini..!! Semoga anda masih kebagian..!!

Senin, 11 Mei 2009

Rencana Menjadi Kaya

Last Update, Life · May 8, 2009
Seberapa cepatkah anda menjadi kaya?
(Robert T. Kiyosaki)
Keterangan :
Jika anda mau membangun rumah maka sebagian orang akan memanggil arsitek dan arsitek itu bersama anda membuat rencana. Tetapi ketika orang yang sama memulai membangun kekayaan mereka atau merencanakan masa depan, mereka tidak pernah mendesain rencana finansial untuk hidup mereka. Mereka tidak mempunyai garis besar rencana kerja untuk menjadi kaya. Bahkan banyak orang tidak mempunyai rencana, mereka hanya menjalani hidup saja dan hanya bermimpi sewaktu-waktu mereka akan menjadi kaya. Banyak juga orang yang menggunakan satu-satunya jurus andalan, yaitu merencanakan untuk bekerja keras dan mereka tidak pernah kaya. Karena apa yang mereka kerjakan sekeras apapun memang tidak memungkinkan mereka untuk menjadi kaya.
Contoh, menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan, walaupun sekeras apapun mereka bekerja akan sulit sekali untuk menjadi kaya.
Ada juga orang yang mempunyai rencana yang lambat untuk menjadi kaya, rencana tersebut yaitu bekerja keras dan menabung. Dengan mengikuti rencana tersebut maka jutaan orang akan menghabiskan hidupnya dengan memandang keluar jendela dari kereta mereka yang lambat atau dari mobil mereka yang terjebak dari kemacetan lalu lintas menyaksikan limosin, helikopter, pesawat jet perusahaan, rumah- rumah mewah.
Dan yang paling menyedihkan ada juga orang yang mempunyai rencana untuk menjadi miskin. Begitu banyak orang mengucapkan kata-kata seperti ayah miskin Robert Kiyosaki “Ketika saya pensiun, maka penghasilan saya akan berkurang”. Dengan kata lain mereka merencanakan untuk bekerja keras seumur hidup hanya untuk menjadi miskin.
“Saya membutuhkan kecepatan.” Kata Tom Cruise dalam Film Top Gun.
Ide bekerja seumur hidup, menabung, dan menaruh uang dalam rekening pensiun merupakan rencana yang sangat lambat. Rencana ini bagus dan masuk akal oleh 90% orang tetapi bukan rencana bagi orang yang ingin pensiun muda dan pensiun kaya.
Berikut adalah beberapa ide tentang cara untuk membangun rencana yang lebih cepat:
1. Pilih strategi keluar anda terlebih dahulu
Kita harus mulai dari yang akhir, seperti yang dikatakan oleh Steven R. Covey dalam bukunya Seven Habits. Jadi kita harus menentukan dulu umur berapa kita ingin pensiun, berapa banyak uang yang kita miliki saat itu, atau berapa banyak pasif income kita pada waktu kita pensiun. Kemudian dalam logika saya sendiri maka kita harus;
2. Cari bidang apa yang kita suka atau mungkin kita akan suka yang bisa menghasilkan seperti yang kita tentukan sebelumnya. Apabila apa yang kita kerjakan sekarang tidak memungkinkan kita mencapai impian tersebut, Let It Go! (masih ingat cerita saya tentang monyet di beberapa artikel yang lalu?)
3. Kita cari orang yang sudah berhasil mencapai impian kita untuk diajak kerja sama atau belajar kepada orang tersebut.
4. Gunakan faktor kali atau leverage.
Maksudnya kita bisa menggunakan RICE (Resources, Ide, Contact, Expertise) dari orang lain.
Sudahkah anda membuat rencana anda untuk menjadi kaya, dan seberapa cepatkah rencana anda?
Semoga bermanfaat. Salam Dahsyat!
from : tdwuniversity.com